Home
|
About Us
|
Contact Us
Enter your search terms
Submit search form
Web
indonesiasatu.com
HEADLINES
|
OPINI FREDDY
|
OPINI PERS
|
ARTIKEL
|
PAKAR
|
DIALOG
|
FORUM
Reformasi Gelombanhg kedua
[25 Agustus 2010]
Indonesia Dilecehkan karena Masih Miskin
[07 September 2009]
Presiden Berwenang Tetapkan Krisis
[06 September 2009]
Sistem Oposisi Belum Dipahami
[05 September 2009]
Masa Depan SBY-JK
[21 Februari 2009]
Pertamina, Aset Vital dan Pasokan BBM
[20 Januari 2009]
Pendidikan Berkarakter Keindonesiaan
[02 Mei 2008]
Sultan dan Keistimewaan Yogyakarta
[27 Maret 2008]
Timor Leste Dalam Bahaya
[12 Februari 2008]
MEDIA SOROTI RESHUFFLE KABINET ALA SBY
[07 Mei 2007]
OPINI PERS
Malu Menantang Malaysia
[08 September 2009]
Pesawat Nomad CN22 milik TNI AL jatuh di Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur Senin kemarin. Peristiwa ini menjadi torehan baru catatan kelamnya nasib korps bersenjata bangsa ini.
Sebelumnya sejumlah insiden pesawat TNI jatuh dan memakan korban jiwa tejadi di tahun 2009. Di antaranya kecelakaan Fokker 27 milik TNI AU di Bandung, Hercules di Magetan, kecelakaan heli Bolkow TNI AD di Cianjur, dan kecelakaan Helikopter Puma di Atang Sanjaya Bogor kemudian yang terakhir adalah peristiwa insiden pesawat Nomad di Bulungan.
Kesimpulan yang mencuat adalah kecelakaan sangat erat kaitannya dengan usia pesawat yang uzur dan minim perawatan.
Kondisi itu tentu tidak sejalan dengan ambisi sebagian komponen bangsa yang saat ini sedang semangat-semangatnya teriak 'ganyang Malaysia' karena sejumlah persoalan klaim provokatif seni budaya dan teritorial.
Aksi-aksi mengecam Malaysia berkembang tidak hanya dilakukan dengan orasi dan teaterikal. Replika bendera Malaysia menjadi objek pembakaran sebagai simbol protes keras terhadap negeri para datuk itu. Kemudian ada yang mengklaim siap memberangkatkan relawan untuk berperang ke Malaysia.
Kegemasan terhadap Malaysia di Indonesia tidak hanya merebak di kalangan masyarakat. Bupati Sukoharjo Bambang Riyanto pun terang-terangan berani memimpin aksi yang juga diwarnai pembakaran bendera Malaysia.
Lalu yang cukup ekstrem tentu adalah aksi sweeping warga Malaysia di depan markas Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) di Jalan Diponegoro 58, siang tadi.
Berperang dengan Malaysia? Tentu keinginan itu masih jauh dari kenyataan. Hubungan Pemerintah RI-Malaysia sejauh ini masih cukup baik. Kedua pemerintah bisa meredam situasi dan tidak lantas mengeluarkan pernyataan yang dapat menyulut emosi masyarakat kedua negara.
Keinginan berperang dengan Malaysia sebenarnya memang harus dilakukan. Perang yang dimaksud tentu dalam hal berkompetisi untuk membuktikan keunggulan negara masing-masing memiliki prestasi.
Prestasi budaya, pendidikan,teknologi, ekonomi, dan yang tak kalah penting prestasi membabat habis korupsi di pemerintahan. Kompetisi dalam konteks yang demikianlah yang seharusnya diletakkan sebagai arti berperang terhadap Malaysia.
Sebab meskipun kita mempunyai alasan kuat untuk berperang dengan mengangkat senjata, toh sepertinya kita masih perlu berhitung seribu kali. Meski berani taruhan, personel militer Indonesia 1.000 kali lebih gagah berani dibanding militer Malaysia, tapi rasanya menantang Malaysia berperang saat ini tak ubah seperti kita mengacungkan pistol mainan ke barisan tentara bersenjata.Bukan membuat takut, nanti yang ada hanya menjadi bahan tertawaan.Kalau sudah begitu siapa yang malu? (fit)
[Fitra Iskandar - Okezone ]
Copyright © 2004-2009 indonesiasatu.com. All right reserved
Powered by
nifiradamha