Home | About Us | Contact Us  
Google
 
  HEADLINES | OPINI FREDDY | OPINI PERS | ARTIKEL | PAKAR | DIALOG | FORUM  ID  EN   
   
    Headlines
    Opini Freddy
    Opini Pers
    Artikel
    Pakar
    Dialog Tokoh
    Forum Indonesiasatu
    Otonomi Daerah
    Berita Anda
    Pidato Presiden
    Leaders Indonesiasatu
    Joke Indonesiasatu
    Pojok Indonesiasatu
    Kurs Valas
    About Us
    Contact Us
    Perjuangan Tetap di Udara
  OPINI FREDDY  
SIAPA KORBAN CENTURY GATE
[17 Desember 2009]
Oleh: Freddy Ndolu
Kata orang bijak, langkah pertama menentukan 1000 langkah kedepan. Jadi, langkah 100 hari pertama keliru maka pemerintah ini tinggal menuai badai akibat kekeliruanya sendiri dan sebaliknya. Hari- hari melengkapi 100 hari periode ke-2 pemerintahan duet Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dan wakil presiden Budiono hasil pilpres dengan dukungan rakyat sangat signifikant itu, hampir mencapai batas akhir gong 100 harinya. Apa fondasi yang telah disiapakan ? Hari-hari menjelang batas akhir sekan kontradiktif dengan pesta kemenangan pasangan ini bahkan pemberitaan media menutupi peristiwa penting yakni NATIONAL SUMMITt untuk merancang program mensejahterakan rakyat 100 hari dalam 5 tahun kedepan. Sejumlah media memberitakan salah 1 point penting adalah pemberantasan mafia peradilan ( markus) sebagai target program 100 hari pertama dibutuhan dana 2000 triliun pertahun untuk pembangunan infrastukur hingga 2014. Namun, pemberitaan soal ini baru kulit saja, kembali media masa disibukan soal penahanan pimpinan kpk Bibit dan Chandra dan skandal bank century. Tidak jelas agenda sttingnya, dari Istana, dari publik atau dari media ?

Opini indonesiasatu.com mencoba mencermati fenomena politik dan hukum yang mengemuka dibalik kejadian, di KPK, angket Bank Century dan program 100 hari pertama pemerintahan SBY serta kemana masalah ini dibawa.
Secara kronologis singkat cerita ada tiga hal penting, pertama, drama 100 hari ini merebak setelah pimpinan kpk Bibit dan Chandra di tahan oleh mabes polri sebagai tersangka penerima suap, kemudian diperdengarkan rekaman pembicaraan kasus penyuapan yang melibatkan sejumlah petinggi penegak hukum termasuk nama SBY disebut-sebut dalam rekaman pembicaraan itu. Tekanan masyarakat yang semakin kuat, dan masukan tim 8 bentukan presiden, akhirnya kedua peimpinan kpk dibebaskan dengan keputusan presiden, kini telah aktif kembali di KPK. Tidak jelas apakah akan diusut ada apa dibalik penahanan penahanan pimpinan kpk, mengingat darama itui begitu luas mendunia bunyianya, tapi sunyi senyap setelah Bibit dan Chandar dipulihakan.

Kedua, skandal bank century sejak awal sudah diyakini sejumlah pihaks akan menjadi target karena menyangkut dana bailout 6,7 triliun yang oleh BPK ada indikasi penyalah gunaan wewenang. Aliran dana century disinyalir mengalir ke partai Demokrat partai pemenang pemilu dan tim sukses pasangan SBY-Budiono. Presiden SBY beberapa kesempatan telah menolak dengan tegas tuduhan yang dinilai fitnah yang sangat keji itu. Bahkan presiden dengan emosi yang tinggi meyakini dirinya dan timnya tidak menerima sepeserpun aliran dana bank century. Sby meyakini hal itu dengan mendukung pasus angket DPR, dan siap berjihad untuk kasus bank century. Kini pansus hak angket yang semula hanya setusan anggota saja yang mendukung. Kini hampir seluruh anggota ( > 500 orang mendukung termasuk FPD) mendukung hak angket.

Ketiga, program 100 hari pertama Sby luput dari perhatian media masa, karena headline media selalu menjadi newsrun soal kasus bank century dan pengembangan penyelidikannya secara hukum melalui KPK dan poses politik melalui pansus angket di DPR. Ketua pansus angket DPR, Idrus Markam cs telah meyakinkan publik bahwa pansus akan serius, transparan, judur adil dalam menuntaskan secara politik kasus yang telah bergulir menjadi skandal menelan kerugian negara hingga 6,7 triliun rupiah.

Perdebatan dan pengembangan menarik

Kini kasus penylidikan lewat kpk bergulir dan terus menemukan sejumlah bukti tindak pidana kourpsi melibatkan sejumlah nama, begitu juga pansus angket. Sejumlah anggota menyampaikan hasil temuan yang juga menjurus pada penyalah gunaan wewenang melalui kebijakan pemerintah terhadap bank century. Saling bersahutan dan saling mengancam antara pihak pemerintah dan pihak anggota pansus melibatkan mantan gubernur BI ( kini wapres Bundiono) , Menteri Keuangan Sri Mulyani, ; dari pasnus angket Bambang Susatyo dari fraksi Golkar. Kemudian perang statemen oleh Sri Mulyani dan ketum partai Golkar, Aburizal Bakrie yang sebagai pengusaha pernah memiliki sejumlah masalah di Bakrie group yang sempat menghiasi media masa beberapa waktu lalu. Pertanyaannya, siapakah yang akan menjadi pahlawan menyelesaiakan masaalah yang terlah berkembang menjadi perang antar kelompok usaha ( Ical dan Sri) atau ada scenario lain yang dimainkan kubu ical dan kubu Ani ? kemudian apakah pertikaian ini akan mempengaruhi pansus angket bank century DPR mengingat, ketua pansusnya Idrus Marham adalah anak buah Icsal di Golkar ? masih kita lihat permainan politik atau hukum yang menguat.
Ada pengalaman, Gus Dur ketika terkena skandal dana Bulog dan Brunei juga melalui proses yang sama dan berakhir melalui sidang istimewa MPR mencopot Gus Dur dari kursi kepresidenannya. Dramanya hampir sama, ada tekanan, perang di media masa, demonstrasi mahasiswa dan perang opini melalui media. Pertanyaanya, sadarkah eksekutif bahwa ketika proses politik di DPR disetujui dan didukung tidak bisa diukur arah bidak catur politik itu kemana bahkan terburuk adalah pemaksulan terhadap presiden ? sedangkan proses hukum mungkin bisa disetir kemana arahnya, tapi lain soal proses politik. Kondisi demikian, saya sangat prihatin tapi juga sangat salut terhadap keberanian sikap SBY untuk mendorong pasus angket dpr. Keprihatinan saya adalah pernyataan sby soal demonstrasi hari korupsi sedunia 9 Desember 2009 dilihat sebagai sebuah gerakan politik yang ingin menjatuhkan pemerintahannya, dugaan presiden tidak terjadi. Akan tetapi, kesalutan saya soal retorika politiknya mampu meredam gejolak. Pertanyaanya, apakah benar dukungan SBY untuk pansus serius karena benar-benar bersih dari segala tuduhan atau sekedar retorika politik atau ada misinterprestasi kata "mendukung "oleh ketua DPR Marzuki Ali yang juga sebagai sekjen partai Demokrat ? masalahnya beberapa hari setelah pansus terbentuk, Marsuki pun di copot dari jabatan sekjen dengan alasan agar fokus di dewan.

Kalau pernyataan terbuka SBY adalah pernyataan politik maka, ada misinterpretasi makna bahasa orang jawa dan orang sumatra. kasus ini mirip joke di masa lalu, ketika tim formatur Golkar dipimpin Manihuruk yang orang Batak menghadap pak Harto soal pemilihan ketum Gokkar. Kira-kira begini dialognya : Manihuruk : "pak, formatur telah memutuskan untuk memilih pak Wahono sebagai ketum Golkar, " Pak Harto : "Wah, ono ae". sambil pak harto menyedot serutu keseukaannya. Lalu segera kembali ke markas, langsung Manihuruk menjelaskan bahwa pak Harto setuju dengan pak Wahono sebagai ketum golkar. Akhir cerita, konon kabar dari situlah berawal kegagalan golkar hingga kejatuhan pak Harto pada 1998.

Perlu di cermati adalah, peristiwa dimasa lalu sangat beda dengan masa kini dimana media dan pers bahkan kerajaan baru melalui multi media seperti facebooker tidak bisa dibendung bahkan akan kelihatan sekali bila ada upaya pengendalian atau pengalihan isyu. Jadi skandal bank century sudah terus bergulir bak bola salju semakin membesar, sehingga baik pihak legislatif maupun pihak eksekutif harus siap menerima apapun resiko terburuknya. Pansus yang memakan dana rakyat 2,7 miliar rupiah itu harus makan koban entah siapa dan bagaimana kahirnya.

Harapannya, semua pihak harus menerima hasil akhir penyeolidikan Century Gate ini sebagai sebuah proses pematangan demokrasi dan meyakinkan rakyat bahwa konstitusi menjamin kebebasan nalar berfikir membangun kreativitas masyarakat melalui kebebasan pers dan kebebasan berekspresi dan berserikat, mendorong persamaan hak setiap individu dan kelompok, dan penegakan hukum yang adil tanpa tebang pilih sajalah maka penguatan sistem demokrasi kita makin memberikan kesejahteraan sesuai sila ke-5 dalam Pancasila dapat dicapai kelak. " No point of reurned bro".
 
KOALISI PENDUKUNG DAN PENENTANG PANCASILA
[13 Mei 2009]
Oleh: Freddy Ndolu
Dalam kurun waktu 1 bulan terakhir menunjukan konstelasi politik memberikan sebuah pembelajaran politik yang sangat bagus kepada rakyat, kendati rakyat juga ikut mabuk menganalisis pergerakan elit dan parpol. Hiruk-pikuk politik pasca pemilu legislatif, kecurigaan kecurangan pemilu yang sistematis, mulai dari masalah Daftar Pemilih Tetap (DPT), pemilih ganda, calon legeslatif yang merasa dibohongi rakyat pemilih, caleg stress, suara hilang, suara diperjual belikan hingga menghasilkan pemilu yang bermasalah ke Mahkama Konstitusi bahkan menyisahkan sebuah fenomena golput sekitar 60 juta suara( ini termasuk yang sengaja tidak memilih, suara tidak sah maupun yang tidak paham). Sementara, menghadapi pemilihan presiden langsung (pilpres) Juli mendatang, hingga kini pasangan capres/cawapres belum jelas pasangannya. yang tampak hanyalah bergeraknya parpol bicara koalisi, tidak koalisi, saling kunjungan dan saling mengusung nama. Faktanya, baru pada tataran jalan-jalan saja, sejumlah partai politik mulai menuai badai conflik internal bahkan cenderung pecah berantakan. lihat saja, PKB : pro Gus Dur vs Muhaimin Iskandar; PAN dengan Amien Rais vs Sutrisno Bachir, PPP -dengan Bactiar Chamsah vs Surya Dharma Ali, PKS - kelompok berjenggot dan tidak berjenggot; PDIP - kelompok yang ingin berkoalisi dengan Demokrat vs pendukung setia Megawati Soekarnoputri; Golkar : muncul sedikitnya 3 faksi, pendukung JK dan yang ingin bergabung dengan Demokrat; Bahkan partai-partai kecil yang tidak masuk dalam treshold juga saling menuduh dan saling pecat, seperti hal partai Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) pecahan dari PDIP.Konflik internal parpol menjelang pilpres akibat koalisi elit disatu sisi, dan koalisi lintas partai demi kekuasaan dan uang di sisi lain. tapi ada satu sisi yang lain adalah semuanya juga berbicara kepentingan bangsa dan negara sebagai alternatif kepentingan yang elbih besar dar strategis. melihat kepentingan, sisi strategi pecah belah partai politik dari dalam merupakan keberhasilan pihak pemenang pemilu apalagi elit parpol telah habis-habisan membiayai pesta demokrasi yang baru saja berlalu. sementsra koalisi yang terjadi hanya mengulangi file lama yakni trik-trik elit untuk menaikan posisi tawar pada sasaran koalisi yang sesungguhnya. Jadi terbentuknya koalisi besar yang digagas sejumlah parpol minus di Teuku Umar, sama halnya dengan koalisi yang dibangun partai Demokrat bersama SBY. Dari dua koalisi tersebut, jelas ada yang diuntungkan dalam taktik dan strategi entah kuat atau tidak soal lain, tapi yang jelas Koalisi besar tiba-tiba muncul deklarasi capres/cawapres Jusuf Kalla- Wiranto (JK-Win); Sementara Koalisi Demokrat muncul Susilo Bambang Yudhoyono (SBY-Budiono). Budiono sendiri bukan orang partai. Jelas, partai -partai berbasis Islam yang melingkari bahkan jauh-jauh hari sudah merapat minta menjadi koalisinya demokrat seperti, PKS,PAN,PPP, dan PKB. Empat partai Islam ini pernah melakukan manufer di pemilu 19999 yang menggagas Poros Tengah oleh Amin Rais menghadang tampilnya pemenang pemilu PDI Perjuangan mengusung Megawati sebagai presiden dan berhasil. Setelah mereka kecewa dengan SBY, apakah mereka akan mengulagi scenario 1999 ? Kemungkinan terjadi bisa saja, karena kini para elit ke empat partai ini telah menggalang sebuah poros yang dinamakan POROS ALTERNATIF. Poros ini akan menjadi kuat dan muncul sebagai pemenang, bila mereka mampu membuka ruang berkoalisi dengan partai Gerindra dan partai kecil lainnya. Fenomena ini, semakin kuat dugaan yang mengingatkan kita pada proses politik menjelang Indonesia meredeka 64 tahun silam. Ada kecenderungan kaum nasionalis, bahwa keutuhan Indonesia dibawah idiologi PANCASILA adalah harga mati yang tidak boleh dipimpin oleh partai aliran, apalagi komunis. Kendati kita tau bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil kerjasama yakni unsur nasionalis, aliran (islam) dan unsur sosialis komunis. Setelah dinyatakan partai terlarang pasca tragetdi G30s PKI 1965, maka praktis hanya tinggal nasionalis dan islam menguat. artinnya demokrasi indonesia sangatlah tampak HEAD TO HEAD ( Nasionalis vs islam). kendati ada 38 partai yang bertarung tapi semunya berada di poros tengah dan agak kekanan, dengan demikian idiologi lain tidak mendapat ruang yang kongkrit sehingga kaum idiologi yang agak kiri atau keiri-kirian harus masuk dan berinterkasi di ruang nasionalis dan islam bahkan mungkin dalam parpol yang dipimpin elit militer. pertanyaannya, mengapa perpolitikan indonesia seperti jalan ditempat gampang di dikte dan rentan koruptif dan manipulatif demi uang dan kekuasaan dalam alam global demokrasi ? jawabannya, karena yang tampak hanyalah dua petarung tapi pemainnya lebih dari tiga idiologi. nah, siapa saja pemainnya ? . Seperti yang telah saya singgung diatas, bahwa ada kepentingan lebih besar yang sepertinya lebih mulia tujuannya tapi tidak tampak. Kelompok elit militer baik yang telah purnawirawan maupun yang masih aktif, sebagai institusi maupun prajurit militer harus dicatatat bahwa PANCASILA, NKRI dan UUD 1945 adalah harga mati. Bagi elit militer, sepertinya tidak bisa dibiarkan bangsa ini hanya di urus oleh politisi sipil yang memainkan peranan, tapi elit militerlah yang paling tau dan paling siap karena memiliki sarana dan prasarana untuk itu. sementara sipil sulit dibaca. sehingga kita lihat, politik sipil bisa dipecah belah sejak orde baru. Pemilu 1971 hanya 3 partai peserta pemilu Golkar, PDI dan PPP. Pemilu 1999 berjulah 48 parpol; pemilu 2004 diikuti 24 parpol tapi pemilu 2009 kembali menjadi 38 partpol bahkan ditambah 10 partai lokal di Aceh. Yang menarik adalah dari jumlah parpol yang memiliki kekuatan daya tawar yang tinggi pasti terdapat elit militer baik yang terjun sebagai pengurus maupun dalam bayang-bayang militer aktif. jadi tidak heran kalau, ada parpol yang didirikan dan dipimpin oleh elit purnawirawan militer tidak banyak melalui proses panjang meraih suara rakyat. sebut saja, Hanura oleh Jendral (purn) Witranto dan Gerindra oleh Letjen (purn)Prabowo Subiyanto. kedua partai ini sudah pasti ingin menggantikan kedudukan partai nasionalis sperti PDIP dan Golkar. PDIP yang memang satu-satunya garis partai bernafaskan nasionalis turunan dari PNInya Bung Karno yang masanya adalah kaum marhaen wong cilik, sendangkan golkar adalah partai nasionalis penguasa bentukan Soeharto yang juga adalah elit militer. Sementara, partai islam turunan dari Muhamadiyah, NU maupun dari mashab yang baru datang tetap saja seja pecah berkeping-keping tidak bisa menjadi besar. Jadi, kalau hingga kini Megawati Soekarnoputri diam dan elit politik berbaris mendatanginya, menunjukan bahwa bangsa ini perlu perenungan. Nurcholis Madjid berkesimpulan bahwa partai Islam Yes, partai islam No.Nurcholis menyadari bahwa aliran agama Islam untuk tujuan politik hanya menghadapi kehancuran,apalagi ingin merubah menjadi negara islam. Jadi kemarahan elit parpol Islam yang kecewa dengan SBY menurut J.Kristiadi hanya sebuah drama menjadi menarik, karena percaturannya mereka sesungguhnya tampak kekanak-kanakan tapi sesungguhnya menarik untuk pembelajaran politik bagi rakyat dan bagi elit politik sipil maupun militer bahwa komitmen berbagsa dan dan bernegara dalam bingkai Pancasila sebagai harga mati tapi perlu dinamika politik agar thesis ini berproses menjadi sebuah sintesa yang baik untuk bangsa dalam poros pancasila. 10 tahun reformasi berlalu, hanya dalam tempo 1 periode pemilu (5 tahun) 4 elit politik sipil yang vocal ( Amien Rais di MPR, Gus Dur dan Mega bergantian jadi Presiden) memimpin bangsa ini, kemudian kembali berpindah ke Jenderal berbintang empat ( SBY) seperti telah discenarioakan. Kritik yang perlu dibangun sekaligus dipertanyakan, apakah hanya elit militer baik purnawirawan maupun aktif ( AD) saja yang mampu dijual dan mampu dipercaya rakyat untuk memimpin bangsa ini ? pertanyaan ini perlu direnungkan dan diwacanakan apabila komitmen kita bahwa Indonesia adalah negara yang beridiologi Pancasila. Jadi, bila sejak awal muncul fenomena koalisi besar dan koalisi kerakyatan maka perubahan pergerakan parpol dan elit partai akhirnya akan terjadi Head to Head, koalisi pendukung pancasila dan koalisi penentang pancasila.
 
SBY DAN BELENGGU DEMOKRASI
[17 April 2009]
Oleh: Freddy Ndolu
Sebuah fenomena menarik tampak di pemilihan umum (pemilu) langsung 2009 yakni pemilu anggota DPR,DPRD DAN DPD. ada proses yang mengusik kecurigaan dalam wujud demokratisasi di Indonesia. Pemilu ke ke-3 pasca reformasi ini mengundang silang pendapat dan tensi yang memanas. Indikasi maraknya kecurigaan datang dari berbagai kalangan baik yang memperoleh suara terbanyak ( partai demokrat) maupun yang kurang suaranya ( Golkar , PDIP dll) dalam perhitungan awal yang dilakukan gabungan lembaga survey quick count maupun hitungan real count Komisi Pemiilihan Umum (KPU). Sebagai ketua pembina partai yang memperoleh suara terbanyak sontak berpidato menyambut kemenangan hitungan awal itu, tapi sebagai kepala pemerintahan, SBY menyatakan prihatin terhadap indikasi yang terjadi shingga meminta agar diusut tuntas bahkan presiden menyatakan tidak ada toleransi bagi KPU. Pernyataan SBY menyikapi keprihatinan banyak pihak soal kekacauan pemilu 2009 ini memang cukup menarik, responsif pada keadaan melalui pidato televisi dan radio seperti yang sering dilakukan mndiang presiden Soeharto pada masa pemerintahanya. inilah keuntungan incumbent, dan sah-sah saja sang incumbent menghendaki kesempatan berikutnya. Akan tetapi, presiden sebagai role model demokrasi harus juga mampu mengkalkulasi upaya memperolh dukungan sebanyak-banyaknya dan kwalitas mengukur kwalitas demokrasi melalui pemilu yang umum, langsung, bebas dan rahasi.a itu serta sense of crises sebagai pemimpin. demokrasi adalah sebuah ciklus nalar untuk melepskan diri dari sebuah belenggu otoritaritanisme.
 
OPOSISI MENGKRITIK, SBY MEMBALAS
[03 Februari 2009]
Oleh: Freddy Ndolu
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diayakini semakin panas kuping mana kala kritik yang dilontarkan kepada dirinya maupun kepada pemerintahannya, khususnya kritik yang dilontarkan partai oposisi. Kritik terahir dari pihak oposisi, yakni ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri pada pembukaan rakernas PDIP di Solo, 27/01/09 mengatakan pemerintah seperti bermain yoyo, sebuah permainan anak-anak. Kritikan ini disampaikan Megawati merespons pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak ( BBM) hingga tiga kali setelah harga minyak dunia turun hingga 40 US$/barel setelah sebelumnya menembus angka 130US$/barel. Penurunan harga minyak inipun juga dijadikan model iklan oleh partai demokrat pimpinan SBY. Sebuah indikasi menarik, seolah saling bebalas pantun, kritikan partai oposisi selalu ditanggapi dengan balas kritikan oleh pihak pemerintah. Penurunan harga BBM ini dinilai sebagai sebuah konsekwensi global terhadap siapapun pemerintahannya, bukan sebuah keberhasilan.
 
PEMBERANTSAN KORUPSI JANGAN SAMPAI ANTI KLIMAKS
[22 Agustus 2008]
Oleh: Freddy Ndolu
Program pemberantasan korupsi yang menjadi icon pemerintahan Indonesia bersatu pimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Mohammad Jusuf Kala (MJK) dalam kurun waktu 4 tahun terakhir tampak hampir mencapi titik anti klimaks. Kasus suap menyuap berawal dari proyek korupsi raksasa Badan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) yang tersisa sejak jatuhnya pemerintahan orde baru dan mengemukanya proyek suap paling akbar di DPR melibatkan dana yayasan Bank Indonesia (BI). Dalam proses pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang terus melibatkan sejumlah nama termasuk nama anggota kabinet Indonesia bersatu seperti Menteri Kehutanan MS Kaban dan Menteri Perencanaan Nasional Paska Suseta. Melibatkan nama-nama dari sejumlah anggota DPR dari semua fraksi DPR dan melibatkan juga nama mantan deputy Bank Indonesia Aulia Pohan yang juga besan presiden SBY nampaknya mulai mengalami posisi anti klimaks pemberantasan korupsi di tanah air yang merupakan icon perjuangan SBY. Hal ini terungkap dari pernyataan ketua Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK) Anwar Nasution yang juga mantan deputi gubernur BI. Anwar Nasution melihat adanya pengalihan perhatian dari sebuah kejahatan besar, seperti, kasus manipulasi pembukuan Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) dan neraca BI, ketentuan BI mengenai Informasi tentang Nasabah (Know Your Customer), ketentuan mengenai pencucian uang (money laundering), dan pelanggaran Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan. Ditambah lagi dengan keinginan ketua KPK Antasari yang ingin mengikuti rapat-rapat di DPR agar mengetahui proses modus awal korupsi. Pernyataan KPK ini agar berlebihan, seharusnya membuat jera para calon koruptor, tidak harus masuk ke semua wilayah kekuasaan, tapi sejauh mana KPK dapat memberikan efek jera. Nampaknya, pernyataan ketua BPK dan KPK ini cukup meberikan signal soal niat pemberantasan korupsi di tanah air oleh SBY tidak cukup hanya dengan niat penegakan hukum, tapi harus strategic dengan pendekatan multi disiplin termasuk pendekatan politik untuk memberikan efek jera. Kemungkinan lain yang dapat menghambat pemberantasan korupsi adalah sebuah arus kekuatan politik yang penuh konspiratif menjelang pemilu 2009. Seperti halnya menjadikan terlalu banyak sejumlah pejabat, mantan pejabat dan sejumlah politisi menjadi tersangka suap dan pemberi soal, terkesan diskriminatif, mencari kesalahan lawan politik dan belum satupun koruptor yang dihukum setimpal dengan perbuatannya. Kekawatiran arus balik pemberantasa korupsi menyerang kembali apabila pemerintah terus saja berputar pada cara penegakan seperti saat ini.
 
SBY SEMAKIN RAGU-RAGU?
[10 Juni 2008]
Oleh: Freddy Ndolu
Harapan rakyat mendambakan seorang pemimpin yang mirip Soekarno sang proklamator sekaligus Presiden pertam Republik Indonesia semakin jauh dari harapan. Kendati sudah direformasi sejumlah sistem dan kebijakan dan bahkan melaksanakan pemilihan presiden secara langsung sehingga lahirlah Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla sebagai duet presiden dan wakil presiden toh semakin tidak jelas. Sudah lebih dari tiga tahun usia pemerintahan hasil pilihan langsung rakyat bukan pilihan wakil rakyat itu terus menuai kritik soal kebijakan yang dinilai tidak pro rakyat. Sudah 5 kali interpelasi dan 2 kali usulan hak angket dimasa pemerintahan SBY-JK berkuasa kendati hak-hak dewan itu harus berakhir di paripurna karena kelompok oposisi tidak mampu mengimbangi suara pendukung pemerintah di dewan, dengan sejuta alasan kemudian rakyat terus kembali memikul beban. Dari isyu menolak import beras, kenaikan harga BBM, lumpur lapindo, nuklir Iran, BLBI hingga kenaikan harga bahan pokok rakyat yang terus melambung pasca kenaikan BBM jilid II. Sejumlah masalah strategis menyangkut kepentingan hidup rakyat banyak, pemerintah selalu muncul dengan strategy buying time alias mengulur-ulur waktu yang akhirnya naik juga bahkan pemerintah terkesan panik merespon dampak dari kebijakannya. Masalah inilah yang membuat sejumlah pernyataan menuding presiden SBY semakin tak terkendali keragu-raguannya mengambil keputusan. Sebuah kebijakan bersejarah muncul yakni kebijakan bantuan langsung tunai (BLT) kepada rakyat karena banyak yang jatuh miskin. Yang paling akhir adalah soal, Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Ajaran Ahmadiyah yang dikeluarkan pemerintah pada 09/06 setelah jatuhnya sejumlah korban dan harta benda. Pro dan kontra sudah melebar bahkan sudah terjadi pemberangusan rumah-rumah ibadah dan rumah penganut Ahmadiyah di sejumlah daerah dan puncaknya penyerangan 1 juni 2008 oleh kelompok Front Pembela Islam (FPI) terhadap demosntrasi pendukdung Ahmadiyah di depan Istana Merdeka Jakarta. Insiden ini telah mengundang reaksi publik yang luar biasa, bahkan kedutaan AS di Jakarta mengutuk tidakan kekerasan FPI terhadap masa unjuk rasa damai itu. Setelah eskalasi tuntutan pembubaran Ahmadiyah dari kelompok FPI dan sejumlah ormas islam dan di kubu umat islam moderat dan sejumlah kompeonen masyarakat mendesak pembubaran FPI dan menolak kekerasan menjadi dua kekuatan besar, barulah pemerintah mengeluarkan keputusan yang sebenarnya keputusan yang tidak putus. Karena keputusan pemerintah yang ditunggu-tunggu sejak lama itu, tidak membubarkan FPI dan juga tidak membubarkan Ahmadiyah, tapi pemerintah berdalih memutuskan berdiri diatas semua golongan. Keputusan-keputusan semacam ini, agaknya akan terus saja tidak menunjukan sikap tegas pemerintah yang dipilih langsung oleh rakyat. Rakyat, sulit mengambil pelajaran dari keraguan pemerintah. Kalau pemerintah sebelumnya, rakyatlah yang telah memprediksi bakal ada keputusan pemerintah soal sesuatu hal yang menyangkut nasib rakyat. Mungkin perlu dipikirkan pemerintah, bagaiman menyiapkan rakyat menghadapi sebuah kebijakan yang tiba-tiba karena pengaruh global. Sebagai contoh, presiden tidak perlu menyampaikan di media masa, kalau ada 3 alternatif, dan alternatif terakhir adalah kenaikan harga BBM. Kenapa alt 1 dan 2 , gagal ? atau pernyataan lain pemerintah tidak akan menaikan harga BBM ? tapi akhirnya naik juga. Padahal di era media yang terbuka ini, rakyat sudah tau kalau harga BBM bakal naik. Di era ini, gerakan tubuh dan wajah para pemimpin puncak saja sudah kebaca, apalagi memberikan kerengan pers secara verbal.Jadi wajar saja, kalau judul opini hari ini berbunyi : SBY SEMAKIN RAGU-RAGU?. semoga saja dalam kurun waktu 12 bulan kedepan mengachiri masa jabatan pemerintahan SBY-JK akan ada jawaban kebijakan-kebijakan yang bisa mengubah peta jalan untuk kesejahteraan rakyat lebih terjamin.
 
PRESIDEN DIMINTA LEBIH FOKUS
[31 Maret 2008]
Oleh: Freddy Ndolu
Beginilah negeri yang dinina bobokan selama lebih kurang 32 tahun oleh regim pemerintahan Soeharto. Sudah empat kali ganti presiden pasca Soeharto toh masih tetap saja krisis seakan tidak pernah mau pergi dari negeri ini. Legislasi tetap saja banyak dibuat, dan pemerintah terus melaksanakan dalam bentuk kebijakan technis, perintah bahkan membentuk banyak lembaga negara berlogo burung garuda tapi tetap saja, rakyat jalan timur, pemerintah ke barat. Sepertinya pemerintah telah melaksanakan aspirasi rakyat melalui perintah legislasi yang dibuat DPR. kenyataannya, rakyat semakin prihatin dengan kondisi hidup yang semakin susah, bayaran biaya sekolah dari TK hingga perguruan tinggi semakin tak terjangkau, kenaikan harga kebutuhan pokok meningkat, dan kelangkaan bahan bakar terus terjadi. Uang masuk sekolah anak tetap saja makin meningkat, penghasilan orang tua semakin cenderung tetap,bahkan banyak orang tua harus kehilangan pekerjaan dan banyak anak terpaksa menganggur.
" ekonomi Indonesia mengalami kemajuan ", demikian presiden SBY dihadapan rapim KADIN 31/03 /2008 di Jakarta. Kalangan politisi dan analist meminta presiden agar lebih fokus. Permintaan ini, nampaknya logis, karena kendati pemerintah yang jalankan pembantu-pembantunya, tapi yang bertanggung jawab ackhir adalah presiden sebagai yang menjalankan mandat rakyat pada Pemilu langsung 2004 dengan segudang janji. Banyak sekali peristiwa politik maupun ekonomi yang perlu mendapt perhatian pemerintah di bulan Maret ini. bulan ini saja ada sejumlah keputusan presiden yang mendapat tantangan dari DPR termasuk fraksi pendukung pemerintah seperti f-demokrat dan dan f-golkar, yakni kasus BLBI, usulan presiden soal calon Gubernur Bank Indonesia yang di tolak oleh DPR, presiden membuat keputusan untuk membentuk pos wakil menteri luar negeri sementara bencana alam masih menghantui rakyat di sejumlah daerah seperti banjir dan longsor. Ditambah lagi harga minyak dunia yang terus melonjak yang konon kabar telah menembus angka $125/ barel sedangkan devisa bangsa ini di Bank Indoenesia lebih banyak surat tagihan dan utang daripada jumlah uang cashnya. sementara ditingkat atas presiden dan pembantunya seakan lebih memperhatikan perdebatan di DPR dengar berbagai tebar pesona melalui media masa. Nonton bareng "AYAT-AYAT CINTA".ditangkap seakan memberikan pesan lebih teduh kepada rakyat sementara rakkyat sedang bergelimang beban hidup di luar sana. padahal film yang sedang dipromosikan oleh Presiden dan pejabat tinggi lainnya itu adalah sebuah penggal ruang atas nama agama mempromosikan hidup berpoligami sejuk yang dibisniskan oleh kaum idustrialis, pada saat yang bersamaan, pemerintah sedang mpromosikan keluarga berencana. Ada semacam ketidak korelasi antara, "das sein und das soleh", Untuk itu, Presiden sebaiknya lebih fokus memacu para menterinya, termasuk pemda agar bekerja lebih keras lagi untuk membuktikan janji-janji kepada rakyat, karena sudah 3 tahun lebih SBY-JK memerintah tetap saja masih dalam ketidak pastian.
 
APA TEROBOSAN SBY TERHADAP SOEHARTO ?
[18 Januari 2008]
Oleh: Freddy Ndolu
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) menghadapi sebuah masalah yang sangat pelik bak buah simalakama, "dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati". gimana tidak berat, ancaman ini datang seorang pakar hukum yang juga adalah anggota Badan Pertimbangan Presiden ( watingpres), Adnan Buyung Nasution soal desakan agar presiden memberikan pengampunan terhadap mantan penguasa orde baru yang kini masih kritis di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan. Adnan Buyung mengatakan apabila presiden memberikan pengampunan pada Soeharto hari ini. ( artinya sebelum kasusnya disidangkan) maka SBY telah melanggar konstitusi, sehingga dapat dilengserkan.Memang pernyataan senada dari bang buyung ini juga datang dari sejumlah pakar hukum, mahasiswa, activis 98, para korban kekerasan di era orde baru dan sejumlah politisi. Bahkan sejumlah demo diberbagai daerah dan yang datang ke RSPP mendesak agar Soeharto segera di adili sehingga tidak terjadi preseden buruk di masa depan. Berbagai demo dan tuntutan adili Soeharto ini muncul segera setelah mantan penguasa orde baru ini masuk ruma sakit. Selama 13 hari di RS, ada semacam penggiringan opini media agar Soeharto diberikan pengampunan dan maaf oleh rakyat Indonesia. Bahkan, banyak sekali pahlawan-pahlawan Soeharto yang muncul setelah menghilang hampir 10 tahun lebih juga meminta agar Soeharto di beri maaf. Bahkan mantan ketua MPR, Amien Rais yang pada masa berkuasa mengeluarkan tap MPR soal mengadili Soeharto juga menyatakan Soeharto perlu dimaafkan. Reaksi akibat penggiringan opini ini, sebenarnya dapat menambah kekuatan atau melemahkan bagi SBY untuk mengambil keputusan terobosan untuk menyelesaikan kasus pak Harto. Tapi memang ada pihak meragukan pernyatraan Buyung, mengingat dia adalah watingpres yang sesuai UU apa yang dipertimbangkan kepada presiden tidak boleh direlease ke publik. Menurut tulisan media masa, ancaman dilengserkan bila maafkan Seoharto sudah disampaikan kepada Presiden SBY dan Wapres JK. Media masa melansir ada tiga bentuk kasus yang harus ditanggung Soeharto yakni, kasus pidana, perdata dan kasus pelanggaran Hak Asasi Amanusia (HAM) selama 32 memerintah. Sejak mantan Presiden Soeharto masuk rumah sakit pada awal Januari lalu, beberapa gagasan kontroversial menyeruak ke permukaan. Salah satunya adalah mencabut Ketetapan MPR No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Tap MPR No XI).
Patut diduga, gagasan pencabutan itu terkait ketentuan dalam salah pasal dalam Tap MPR No XI yang secara eksplisit menyebut mantan Presiden Soeharto. Tanpa mencabut Tap MPR No XI, sulit menghentikan kasus hukum mantan orang kuat Orde Baru ini. (kompas 18/01). Dengan demikian jelas, bahwa mengacu pada konstitusi, maka SBY berat membela Soeharto. Tapi seharusnya SBY dan timnya memiliki hak khusus sebagai penguasa untuk melakukan terobosan apapun resikonya. Sekarang tinggal kita menunggu, apa terobosan riil presiden SBY terhadap kasus Soeharto kini dan akan datang sekaligus meredam berbagai pernyataan yang selalu muncul ketika Soeharto sakit yang seolah-olah mereka yang mampu meberikan maaf pada Soeharto di depan media adalah orang-orang yang punya hati nurani, sementara mereka yang menolak adalah mereka yang tidak etis dan tidak mempunya nurani alias mati.

 
TENANG ! ADA GEBRAKAN SBY-JK 2008
[04 Januari 2008]
Oleh: Freddy Ndolu
Haru biru terus menghantui bangsa ini sejak, tsunami hebat menghantam Aceh di achir 2004 silam menelan ratus ribu rakyat dan harta benda, menyusul bencana tsunami diberbagai daerah hingga pulau jawa, tanah longsor, banjir, kecdelakaan, gunung meletus, gempa bumi hingga meluapnya Bengawan Solo kini. Sepertinya, negeri ini tidak pernah absen dari bencana bertubi-tubi selama tiga tahun terakhir, khusunya menjelang akhir dan memasuki tahun baru. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK) dituduh sebagai "pembawa bencana " oleh sejumlah kalangan termasuk lawan politik tapi buru-buru telah dibantah oleh SBY sebagai mitos yang tidak beralasan. " tidak ada hubungan patahan bumi, karena sby jadi presiden". tegas presiden Sby pada suatu kesempatan meninjau korban gempa di Padang,Sumatra Barat.Memang benar bahwa SBY-JK terpilih menjadi presiden dan wakil presiden sebagai hasil pemilihan langsung oleh rakyat untuk pertama kali di Indonesia. Bila benar kedua pemimpin ini hasil suara hati nurani rakyat atau yang dikenal suara rakyar suara tuhan ( vox populei,vox dei) maka ada dua kemungkinan SBY-JK oleh Tuhan dianggap paling mampu menerima cobaan ini, atau memang para pemimpin ini tidak mampu berkomunikasi dengan alam. Walaupun, Indonesia sudah menjadi tuan rumah menghadirkan sejumlah tokoh lingkungan dan petinggi dalam pertemuan tentang perubahan iklim di Bali lebih dari setengan bulan di Bali Desember 2007 soal alam dan lingkungan dunia, tapi toh air bah dan bencana alam terus saja bertandang ke Indonesia merengut ratus jiwa dan harta benda tanpa henti. Deklarasi Bali, sebagai hasil pertemuan paling panjang dan melelahkan itu, pemerintah puas karena berhasil membujuk negara-negara besar untuk bersepakat soal sejumlah pasal yang akan ditindak lanjuti pada 2010 dan 2012 di Copenhagen. Masalahnya, itu kebijakan jangka panjang bagi Indonesia khususnya dan dunia pada umumnya, tapi bagaimana mengatasi masalah alam ini dalam jangka pendek, seperti banjir, gempa, air pasang, puting beliung dll yang hampir tiap hari terjadi di bagian Indonesia. Para petinggi, termasuk ibu-ibu pejabat dan anak sekolah sudah tamam jutaan pohon, bahkan diperkirakan 70 jutaan pohon akan ditanam di negeri ini hingga akhir 2009, tapi anakan pohon itu harus kembali dibawa bajir bandeng dan tanah longsor. Kalau tanam pohon disyuting tv untuk seremonial mungkin biasa saja, tapi kalau tanam pohon untuk rencana jangka panjang, maka pasti ada hitungannya, harga anakan pohon, pohon apa yang boleh tumbuh ditempat itu dan untuk kepentingan apa, serta kemungkinan mati atau dibawa banjir dsebanya perlu sebuah visibility study yang matang.Bahakn perlu ada transparansi di publik soal berapa biaya, kenapa dan bagaimana agar tidak disalah gunakan. Mudah-mudahan saja, apa yang dilakukan para petinggi kampanye tanam pohon bersamaan dengan pertemuan perubahan iklim di bali tidak sekedar seremonial. Karena, beberapa kejadian sejak tanam pohon ini sejak era Soeharto sering asal bapak senang artinya bila ada pemeriksaan pohonnya hijau rindang mendayu, kemudian layu setelah bapak pergi, bahkan tidak ada anggka yang bisa dipertanggungjawabkan ke publik,
"agar digambar televisi bagus". Pemerintahan SBY-JK, praktis sisa 1,5 tahun memerintah, diawal 2008 ini, SBY -JK harus menghadapi bencana longsor dan melupnya bengawan Solo yang menghcurkan sejumlah infrastruktur, kasus luapan lumpur lapindo yang belum juga berhenti, harga minyak menembus angka 100 $/ barel. Pemerintah harus merogok kocek triliunan rupiah untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah optimis pertumbuhan akan mencapai 6,5-6,9 persen produk domestik bruto dalam APBN 2008 dan inflasi ditahun yang sama berkisar 5 % plus minus 1 %; 2009 berkurang menjadi 4,5 % plus minus 1 %; 2010 menjadi4 % plus minus 1 %. Pemerintah berjanji akan melakukan gebrakan di 2008, untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran.Belum jelas gebraka apa. tapi, sejumlah pengamat buru-buru phisimis, karena realita dilapangan dinilai pemerintah sulit mencapai target yang diinginkan. bagaimanapun namanya juga usaha, kita serahkan saja pada mereka yang kini sedang berkuasa yang punya visi lebih melihat apa yang bakal terjadi di dalam 2008. Selamat berjuang bapak- bapak...
 
MERAH - BIRU RAPOR SBY
[24 Oktober 2007]
Oleh: Freddy Ndolu
 
MEGA DAN SBY KEMBALI BERHADAPAN DI 2009 ?
[12 September 2007]
Oleh: Freddy Ndolu
 
ACEH DAN UJIAN NASIONALISME SBY
[20 Agustus 2007]
Oleh: Freddy Ndolu
 
LEADERSHIP SBY DAN CARA RESHUFFLE KABINET
[04 Mei 2007]
Oleh: Freddy Ndolu
Ada yang menarik untuk dikaji cara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyusun kabinet Indonesia bersatu segera setelah terpilih oleh mayoritas 61 % rakyat untuk menduduk jabatan Presiden RI ke-6 , menggantikan Presiden Megawati Soekarnoputri pada Oktober 2004. Cara Presiden SBY memilih figur terbaik bangsa untuk menduduki jabatan menteri merupkan cerminan kepemimpinan (leadership) SBY selanjutnya seperti melakukan reshuffle kabinet. Reshuffle tahap pertama pada Desember 2005 dan kemudian rencana reshuffle kabinet tahap kedua diumumkan SBY pertengahan Aprill lalu bahwa dirinya akian melakukan reshuffle pada awal Mei 2007. Ketika pertama kali memilih anggota fugure kabinet dalam kbinet indonesia bersatu, Presiden memanggil sejumlah tokoh untuk datang ke kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor Jawa Barat kemudian dilakukan semacam uji kelayakan (fit dan proper test ), bahkan ada calon yang membawa konsep diatas kertas. Hasilnya ada yang terpilih dan banyak juga yang kecewa karena tidak terpilih. Herannya, test dilakukan oleh sang presiden tapi kinerja kabinet dinilai kurang becus sehingga harus dievaluasi setelah perjalanan satu tahun . Publik masih tetap kecewa sejak pergantian pertama, karena menteri yang gagal hanya dipindahkan tidak diganti sehingga tuntutan reshuffle kabinet kembali dibunyikan hingga masuk babak reshuffle tahap kedua yang disampaikan presiden pertengahan April 2007 tentang keinginan reshuffle kabinet awal Mei 2007. Cara presiden memilih dan mengganti pembantunya memang tidak lasim berbeda dengan cara - cara presiden terdahulu menggantikan kabinetnya. Kalau Presiden Soeharto lebih suka menghubungi langsung yang bersangkutan via telpon meminta untuk membantunya. Kendati pada masa Soeharto media tidak sebebas saat ini sehingga Soeharto harus menggunakan instinknya alias telepati memantau figur baik perilakunya maupun kompetensinya. Tanpa melaukan fit and proper test Soeharto mampu memilih figur yang tepat dan biasanya menjabat hingga masa jabatan selesai, kecuali ada masalah lain. Di era presdien SBY, media masa begitu bebas membuka baik dan buruk setiap figure, bahkan isyu tekan menekan presiden marak, toh presiden perlu mengajak calon-calonnya untuk bertandang ke kediamannya atau ke istana secara diam-diam untuk di test. Mantan Menko Kesra Alwi Sihab berujar tanda presiden mengajak makan seorang menteri atau mengajak bertemu merupakan tanda yang bersangkutan akan diganti. Spekulasipun berkembang, pada masa dimana antara janji presiden akan mereshuffle kabinet dan hari pergantian tiba. Entah cara SBY ini efektif dengan era pers bebas saat ini atau kurang pas menurut sebuah kelaziman karena menyangkut psikologi seseorang. dalam kurun waktu ini ada yang mengatakan kalau presiden ditekan Amerika Serikat untuk tidak menggantikan tim ekonominya, ada juga yang mengatakan presiden mendapat tekanan dari partai-partai pendukung termasuk partai pendukung mayoritas kursi di DPR yakni partai Golkar yang ketua umumnya adalah wakil Presiden juga. SBY harus menyangkal tudingan bahwa pergantian kabinet tidak ada tekan dari pihak tertentu. Meida masa menulis Sejak Kamis Malam 03/05/2007, Presiden harus kembali ke Cikeas untuk merenungkan reshuffle kabinet ini dan pada saat yang sama presiden juga mengakui memantau spekulasi pergantian kabinet dari media masa cetak dan elektroni. Presiden SBY juga meminta nama-nama kandidat menteri yang di munculkan di media masa agar tidak GR.. dahulu,. Wakil presiden jusuf Kalla berkomentar mengingatkan presiden SBY agar pergantian anggota kebinet tahap kedua ini harus lebih baik. Mengingat beberapa menteri mengalami gangguan kesehatan seperti yang dilansir media masa mengutip pertanyataan wapres bahwa terdapat 13 anggota menteri yang sakit. Entah sakit apa ?. Isyu ini membuat presiden SBY harus meminta data kesehatan dari setiap menteri melalui rumah sakit dimana mereka dilakukan pemeriksaan kesehatan. Ressuffle cara SBY memang sulit di pahami tapi fakta juga menunjukan bahwa cara SBY tidak lebih baik dari cara Soeharto.Karena ternyata menghasilkan anggota kabinet yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Bahkan buying time hanya menghasilkan spekulasi yang berlebihan sehingga presiden harus kembali menemui media masa untuk melakukan koreksi dan kalrifikasi. Hasil lain, SBY hanya berhasil membuat dirinya menjadi pusat pemberitaan media masa, menjadi pusat perhatian partai politik, calon menteri maupun mereka yang sedang menjabat. Kalau kelak pergantian kabinet kembali tidak bisa memberikan kondisi lebih baik maka entah cara apalagi yang harus digunakan, siapa lagi yang harus diganti, caranya berubah atau tetap... Semoga sakitnya anggota kabinet dan ressuffle ini bukan memberikan signal bahwa pemerintahan ini sedang sakit. kita lihat saja semoga lebih baik...
 
BENCANA KEPEMIMPINAN, KEPEMIMPINAN BENCANA II
[08 Maret 2007]
Oleh: Freddy Ndolu
Terpaksa opini, Bencana kepemimpinan, kepemimpinan bencana masih relevan hingga kini alias masih update, kerena ternyata bencana alam maupun bencana buatan akibat buatan manusia terus menimpa dan memakan ratusan korban jiwa hingga awal maret 2007 ini. Edisi Bencana kepemimpinan, kepemimpinan bencana seri dua hari ini, kami melihat betap mengerikannya bumi Indonesia yang semakin kurang bersahabat. Mulai dari banjir bandeng menenggelamkan Jakarta, menghancurkan harta benda dan menyisahkan pengungsi diberbagai tempat, juga peristiwa, tanah longsong , gempa bumi, angin puting beliung yang mampir di setiap kota hampir setiap hari belakangan ini merenggut nyawa manusi, menghancurkan faislitas umum dan harta benda milik warga. Belum lagi usai soal virus flu burung ( H5N1) yang belum redah, sudah muncul lagi penyakit demam berdarah dan penyakit kencing tikus ( leptospirosis) yang juga memakan korban pasca banjir di Jakarta. Tidak ketinggalan, belum terungkap jatuhnya pesawat Adam Air di Sulawesi Barat awal Januari lalu, kini bertubi- tubi sejak Januari hingga Maret kecelakaan kereta api berulang-ulang, tabrakan kendaraa, jatuh pesawat. yang paling tragis beberapa hari lalu tepatnya tanggal 7/03 2007 sekitar pukul 07.15 pagi wib, pesawat Garuda GA 737-200 mengalami kecelakaan terbakar habir sesaat setelah menyentuh landasan di Bandar Udara Adisucipto Jaogjakarta penerbangan dari jakarta. Kecelakaan ini menewaskan 23 penumpang yang hangus terbakar. Musibah ini terjadi hanya amenjelang satu hari gempa berkekuatan 6,3 scala richter mengguncang kabupaten Solok dan sekitarnya di Sumatra Barat. Peristiwa ini menewaskan lebih dari 70 orang, dan meninggalkan trauma yang mendalam bagi masyarakat sumbar. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru saja sehari menyatakan turut berduka cita yang mendalam terhadap musibah yang terjadi bahkan presiden membatalkan kunjungannya ke Simalungun, Sumatra Utara dan dialihkan menjenguk korban di Sumatra Barat. Kembali Presiden membatalkan kunjungannya ake Sumatra barat, karena peristiwa kecelakaan pesawat garuda di Jogjakarta. Melalui Sekretaris Kabinet, preesiden memerintahkan Menkopohukam, Widodo AS untuk segera mengusut kemungkinan upaya sabotase terkait dengan peristiwa terbakarnya pesawat Garuda yang mengangkut sejumlah wartawan Australia dan pejabat Negara kanguru itu. Banyak pihak menduka pernyataan presiden soal kemungkinan upaya sabotase itu karena adanya sejumlah tokoh dan pejabat australia di pesawat naas itu, namun sebagin pihak juga mengkritisi Presiden sebagai penyataan yang terlalu gegabah, karena Menteri Alexander Downer sendiri menyatakan ini kecelakaan murni, bukan sabotase. Lalgi-lagi bencana kepemimpinan dan kepemimpinan bencana menjadi menarik untuk dikaji, mengapa negeri seperti tidak pernah lepas dari bencana setelah pemerintahan baru pilihan hati nurani rakkyat itu terbentuk November 2004. lawan politik mulai secara terbuka bahwa kondisi ini hanya bisa berhenti, manakala presiden SBY dan wakil presiden JK mengundurkan diri, tapi itu tidak mungkin karena konstitusi tidak mengijnkannya. Tapi mungkinkah SBY mulai dengan merombak kabinetnya, untuk mengukur apakah bencana bertubi ini, akibat anggota kabinetnya atau dirinya. ini untuk menjawab ketidak pastian dan sekaligus menenagkan alam.
 
BENCANA KEPEMIMPINAN, KEPEMIMPINAN BENCANA ?
[04 Januari 2007]
Oleh: Freddy Ndolu
Membuka lembaran awal tahun 2007, dengan rentetan bencana dan musibah di negeri yang pluralis ini. Pertanada apakah ini ? sebuah pertanyaan besar yang perlu di maknai dan dijawab tidk harus dengan kalimat verbal dan dipertontonkan di media masa cetak dan elektronik yang juga tidak mungkin diajakak untuk ikut merenungkan peristiwa dipenghujung tahaun hingga awal 2007 itu. Betapa tidak menyentuh emosi yang paling dalam, manakala kita menanap isak tangis manusia akibat malapetaka di darat, laut dan udara indonesia. Belum selesai pemerintah menangani maslah lumpur panas lapindo yang telah memeksa rakyat disana untuk hengkang tak jelas, orang harus hisup kelaparan diberbagai wilayayh karna tidak anda bahan makanan, muncul lagi benncana banjir dan longsor di aceh dan sumatra menewaskan ratusan jiwa. Sejumlah kapal tenggelam menewaskan ratudsan nyawa hingga pesawat Adam Air yang raib tanggal 1 Januari 2007 entah kemana membawa 90 penumpang dan 6 awaknya. sebuah tragedi di era satelit informasi komunikasi yang canggih ini masih ada saja peristiwa semacam pesawat terbang menhilang tanpa diketahuijatuh atau mendarat darurat.
Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Yusuf Kalla dengan kabinet indonesia bersatu kini agaknya kehilangan leadership mereka. Kehilangan kepemimpinanan itu tampaknya akibat beban masalah yang dipikul lebih besar dari kapasitas kemampuan yang dimiliki. Padahal, Allah berfirman : "Ia tidak akan memberikan beban kepada umatnya melebihi kemampuan manuasia". Apalagi, jabatan presiden dan wakil presiden yang disandang pak SBY dan Jk adalah hasil pemilihan langsung suara hati nurani rakyat atau yang dikenal dengan vox populei, vox dei ( suara rakyat auara Tuhan). Bukankah dua pimpinan itu adalah juga pilihan Tuhan ? Kalau kita menoleh lagi kepada firman Tuhan dari semua kitab dan juga teori kepemimpinan dunia yang ditelorkan oleh para filsuf maupun akademisi jelas bahwa kepemimpinan kita sedang menghadapi bencana, atau bencana yang sedang menimpa para pemimpin kita. Mengapa ? yang jelas Tuhan tidak mungkin salah atau disalahkan. manuasia ( para pemimpinlah yang harus mau dan mampu mengevaluasi diri mereka dan mengambil langkah kongkrit agar bencana dan musibah yang terus menimpah bangsa ini bisa berlalau dari bumi pancasila. Keberanian mengambil langkah atau keputusan yang kongkrit terukur dan berwibawa merupakan ciri seorang pemimpin apapun resikonya. Cukup sudah penderitaan sejak tsunami Aceh, nabire, Alor, Jogya yang menelan ratusan ribu jiwa, Bencana itu tidak cukup hanya menjual merek "Indonesia Menagis" untuk mendapat bantuan rupiah, tapi ada langkah kongrit. Menghadapi musibaha yang terus menimpa, yang menamakan diri pemimpin tidak boleh panik. Kepanikan tampak dari keputusan yang diambil, bukan menjelaskan bahwa pemerintah tidak panik. Contoh yang paling kongrit adalah, kebohongan publik melalui informasi telah ditemukan keberadaan pesawat Adam Air, yang kemudian diralat kembali bahwa informasi itu salah. Mungkinkah dengan Presiden memecat menterinya yang tidak becus ? atau langkah apa gitu loh..? Masih banyak lagi masalah kepemimpinan bangsa yang tercermin dalam koordinasi ditingkat pemerintahan, informasi data kemiskinan yang tidak benar, pengangguran meningkat, penyakit flu burung yang terus menelan korban, dan masih banyak lagi yang kalau dihitung hampir setyiap hari ada saja bencana. inikah yang namanya bencana kepemimpinan atau kepemimpinana bencana. semoga kita tidak saja merenungkanya tapi sebagai pemimpina harus mampu mengambil keputusan kongkrit. langkah apakah ?
 
Halaman :     1 2  3  
 
Copyright © 2004-2009 indonesiasatu.com. All right reserved
Powered by
nifiradamha